Catatan Aesthetic, Memang Perlu?

     Kalau kalian buka instagram dan cari kata kunci ''studygram'', "studygram indonesia" akan banyak kalian jumpai siswa siswa berusia belasan tahun (bahkan mahasiswa 20 tahunan) yang mengunggah foto foto catatannya yang sangat rapi. Bukan hanya rapi, namun juga berwarna warni dan sering kali memiliki tema pada bab tertentu. Iya, tema! Banyak catatan yang diunggah memiliki tema khusus sehingga dapat menyesuaikan warna yang ingin dipakai, contohnya tema semangka, akan menggunakan warna merah dan hijau pada catatannya, tema stroberi akan menggunakan warna merah dan sedikit hitam pada catatannya, dan lain lain. Mungkin bagi kalian yang masih awam akan sedikit bingung, untuk apa sih menggunakan tema tema seperti itu untuk membuat catatan?  Jujur, saya pun tidak tahu.

    Saya menjadi bagian dari komunitas ini selama sekitar 2 tahun, dimulai dari sejak saya menjadi junior di SMA hingga awal kelas 12. Saya menemukan komunitas studygram awalnya dari kesukaan saya untuk menghias catatan saya dengan berbagai highlighter, spidol, dan pulpen warna warni, dimulai sejak saya kelas 9 SMP. Saya sangat kagum dengan adanya komunitas ini karena menurut saya sangat positif, di mana orang orang menggunggah kegiatan belajarnya, pikir saya. Saya mulai menguggah foto catatan pertama saya. Saya masih ingat catatan pertama yang saya unggah sama sekali bukan catatan yang berwarna warni atau sangat rapi. Hanya sebuah catatan random yang saya upload. Saya berkenalan dengan banyak orang baru yang seumuran dengan saya. Lama kelamaan studygram berkembang sangat pesat. Orang-orang mengunggah catatan mereka yang sangat rapi, berwarna, dan sangat terstruktur. Saya semakin termotivasi untuk memperbaiki catatan saya dan membuatnya semenarik mungkin. Saya sangat senang dengan catatan saya waktu itu. Teman teman di sekolah juga memuji catatan saya. Rapi dengan pen hitam, diukir dengan brushpen warna warni dan berbagai highlighter yang saya beli hasil menabung. Saya sampai berpikir, wah sepertinya ini adalah cara belajar yang cocok dengan saya. Merangkum suatu bab dengan cantik, lalu mengulang mempelajarinya. Saya bisa bilang begitu karena, saat kelas 10 saya mendapat nilai tertinggi untuk fisika setelah saya belajar dengan merangkum materinya dengan cantik. Saya juga menempelkan stiker di catatan saya. Yang paling mengagetkan bagi saya adalah, saya sempat menjadi satu satunya siswa yang tidak remedi pelajaran Bahasa Bali di kelas. Ini sangat menakjubkan bagi saya karena saya termasuk orang yang biasa biasa saja. Saya juga bukan orang yang terbiasa berbahasa Bali di rumah maupun di lingkungan karena selalu menggunakan bahasa Indonesia. Jadi ketika di grup kelas diumumkan hanya saya yang tidak remedi, dan saat guru bahasa Bali saat itu menyebut : "yang tidak remedi di kelas ini hanya satu ya, indira absen 27" saya begitu merinding! Bahkan saya lihat nilai teman saya yang termasuk langganan peringkat 1 umum di mipa 1 masih lebih rendah daripada saya (bukan bermaksud sombong sama sekali, tapi saya sungguh tertegun). Saya senang sekali. Sejak saat itu saya berusaha selalu merangkum materi di buku menjadi "aesthetic" sebelum mempelajarinya. Karena menurut saya, merangkum membuat kita belajar materi itu secara detail dan menyeluruh. Dengan menghias, kita menjadi "enjoy" dengan kegiatan mencatat, sehingga belajar jadi tidak membosankan, pikir saya saat itu.

    Perkembangan saya di akun instagram studygram saya pun sangat baik. Saya memperoleh banyak pengikut baru sampai jumlahnya ribuan dengan memposting catatan saya yang "aesthetic". Saya memfoto catatan dengan alas kain lalu difoto dengan kamera hp saya. Setelah itu, foto diberikan filter untuk membuatnya lebih menarik. Lama lama pengikut saya di instagram semakin banyak sampai tembus 20.000an followers. Tentu angka yang sangat banyak untuk saya yang termasuk anak yang "di bawah tanah". Saya pun semakin yakin dengan cara belajar saya ini karena banyak teman teman studygram juga melakukannya.

    Namun, setelah pandemi datang, saya mulai kehilangan arah. Yang awalnya memiliki keinginan untuk memperbaiki peringkat di kelas jadi cenderung tidak terlalu peduli, karena saya tau persaingan akan menjadi sangat tidak sehat di kala sekolah online. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar untuk ujian masuk universitas saja. Saya mulai mencari tahu cara belajar yang tepat untuk dapat menyelesaikan semua materi yang ada. Sampai akhirnya saya pada kesimpulan bahwa "mencatat itu tidak penting!"

    Pertama, apa sih gunanya mencatat? Tentu kita tahu, supaya kita tidak lupa akan sesuatu. Saya dulu mencatat dengan merangkum yang ada di buku karena saya takut bila buku sudah dikembalikan ke perpustakaan, saya tidak akan bisa untuk memperoleh materinnya lagi. Namun setelah menonton orang orang hebat di luar sana, ternyata mencatat dan merangkum tidak seperting itu! Saya seharusnya sadar bahwa saya dapat dengan mudah menemukan materi di internet. Ketika saya lupa, tinggal meluncur ke hp dan ketik yang ingin dicari. Bodohnya saya baru tahu mencatat dan merangkum adalah cara belajar yang tidak efektif di kelas 12. Tapi saya masih bersyukur mengetahuinya tidak setelah saya lulus perguruan tinggi haha.

    Sudah banyak sekali penelitian yang membahas mengapa mencatat dan merangkum itu tidak efektif, kalau malas membaca penelitiannya silakan kunjungi channel Youtube Ali Abdaal. Menurut saya Ali adalah malaikan penyelamat saya, kalau saya tidak menonton videonya, mungkin saat ini saya sedang bingung menentukan warna apa yang harus saya gunakan untuk catatan biologi saya (merangkum materi biologi adalah hal paling melelahkan yang pernah saya lakukan). Kalau anda penasaran, salah satu alasannya adalah, merangkum dan mencatat ulang itu tidak membuat otak bekerja dengan keras. Otak hanya menyalin informasi. Untuk itu, informasi yang dicatat ulang tidak akan dapat diingat oleh otak dengan baik. 

    Lalu bagaimana cara belajar yang lebih baik? Yang terbaik adalah dengan membuat otak bekerja lebih keras. Metode yang disarankan oleh Ali adalah active recall dan spaced repetition. Intinya, membuat otak mengulang ingatan dengan aktif serta memberi jeda di tiap materi yang di-active recall. Sebenarnya metode active recall ini secara tidak sadar banyak dari kita lakukan. Contoh paling terkenal dari active recall adalah dengan menjawab soal tanpa melihat pembahasan maupun materi. Dengan ini, kita melatih otak kita untuk mengingat kembali materi yang sudah dipelajari. Cara lain yang terkenal pula yakni Teknik Feynman! Intinya kita coba menjelaskan kembali materi yang sedang dipelajari dengan bahasa sendiri untuk menguji tingkat pemahaman kita. Spaced repetition dapat dilakukan dengan memberi jeda tiap materi yang kita pelajari. Contohnya hari ini belajar materi pembelahan sel biologi. Lalu 3 hari kemudian melakukan active recall materi yang sama sekaligus menambah pengetahuan yang lebih mendalam tentang materi itu. Di jeda waktu yang ada, bisa digunakan untuk mempelajari materi lain. Menurut penelitian ternyata metode space repetition dapat meningkatkan kemampuan otak untuk memahami materi tersebut daripada menjejalkan semua materi dalam sehari.  

    Itulah kenapa mencatat, merangkum, bukanlah cara belajar yang efektif. Catatan dan rangkuman itu cuma alat kita untuk belajar, kenapa membuatnya begitu ekstra dengan memikirkan setiap detail dan warna bahkan tema untuk membuatnya? Yang paling penting kan pada akhirnya kita harus paham dengan materi, bukan memiliki alat berupa catatan yang lengkap. Rangkuman banyak disediakan di internet yang mudah sekali diakses. Dengan berhenti mencatat "aesthetic", saya menjadi jauh lebih tenang dalam belajar, tidak harus memikirkan hal hal yang sebenarnya tidak penting seperti tema apa yang akan saya buat di catatan saya, maupun bagaimana layout yang harus saya buat untuk catatan ini. Saya jadi jauh menikmati proses pemahaman saya ketika belajar dan menjadi jauh lebih menghemat waktu. Akhir kata, buat kamu yang masih mencatat "aesthetic" coba tanyakan pada dirimu sendiri, apakah kamu nyaman dengan catatan seperti itu? Apakah membuang waktu saja?

Komentar